Kota ini terpanggang oleh panasnya matahari di akhir bulan ke delapan tahun ini. Setiap orang bila berpapasan atau berbicara dengan orang lain selalu didahului dengan pembukaan “uh panasnya banget ya … rasanya seperti kering kerontang …”. Ada yang menimpali “ini masih panasnya matahari … bagaimana kelak panasnya neraka”. Atau yang lain lagi “panasnya matahari dirasakan semua orang mas, masih lebih parah panasnya hati yang dirasakan seorang diri …”. Itulah celotah celoteh di kala panas seperti ini.
Jika malam tiba, di puncak kemarau seperti ini, dingin menyusup ke tulang belulang, kadang kulit membeku diterpa angin malam, orang – orang pun tetap mengeluh “brrr … dinginnya malam ini … rasanya seperti ditusuk – tusuk seluruh persendian”.
Apakah usia yang terus merambah tua menunjukkan tanda – tanda kebenaran isyarat bahwa sejatinya manusia itu lemah, lupa, suka berkeluh kesah, kikir dan kurang pandai bersyukur?. Tanda – tanda yang datang kepada diriku seperti ini membuat aku semakin dewasa dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan kepadaku. “sekecil apapun ya tuhan, jika itu rasa tenang dan damai yang menutup mulut dan hatiku dari berkeluh kesah, menyatakan semuanya, panas atau dingin adalah biasa – biasa saja, maka aku tahu bahwa itu rasa yang mengisyaratkan Engkau membimbingku lebih dekat kepadamu, sungguh itu adalah nikmat yang besar buat diriku”, demikian gumamku setiap waktu ketika perasaan seperti itu datang menyusup ke dada kiriku, menggetarkan bibirku, dan menghangatkan mata, lalu setetes demi setetes air mata bergulir. Itu adalah momen yang selalu indah dan rasa yang selalu mempesona dalam hidupku.
Siang ini adzan dhuhur berkumandang di tengah matahari siang yang kembali membakar kota ini. Di hari kedua Ramadhan ini, kami sekeluarga tanpa aba – aba tiba – tiba berkumpul menggelar sajadah bersama di rumah kecil ini. Sudah lama kami tidak melakukannya karena jarang kami bisa berkumpul semuanya seperti siang ini. Kalaupun ada biasanya kami, berjalan sendiri – sendiri menuju masjid begitu adzan berkumandang. Siang ini kami melakukannya lagi setelah sekian lama absen. Aku berdiri di depan sebagai pemimpin doa. Ayat demi ayat terlantun begitu saja keluar dari mulutku, terlonta keluar tanpa berpikir, aku tenggelam dalam alpha yang meluruhkan seluruh rasa, membimbing raga untuk hilang sekejap. Ketika salam mengakhiri sholat duhur itu, aku masih trance dalam rasa itu.
Kalimat demi kalimat meluncur dari mulutku begitu saja, Ayat demi ayat, terangkat dalam sebuah doa dan munajah suara hati yang panjang. “Sungguh kami bersaksi tiada tuhan selain engkau, sungguh kami bersaksi bahwa muhammad adalah rasulmu. Kami bersyukur bahwa Muhammad telah mempertemukan dan memperkenalkan jalan ini, jalan menuju kepadamu, wahai yang maha indah. Oleh sebab itu ijinkan kami kelak bertemu dengan Muhammad, keluarga dan sahabatnya yang telah membimbing kami dalam jalanmu. Jalanmu yang lurus. Sungguh kami bersyukur dan tak akan lelah bersujud untuk menyukuri segala nikmatmu. Telah kau tautkan hati kami dalam cintamu. Telah kami lalui begitu banyak hari – hari yang indah dan kenangan – kenangan yang begitu mempesona bersama – sama dalam keluarga ini. Dalam kata dan untaian kasih sayang yang mampu menghilangkan segala duka dan rasa sakit hati yang kadang ada di antara kami. Hari ini kami bersyukur atas rakhmatMu itu. Jika Engkau ijinkan kami mengenang bapak ibu kami yang sebagian tidak menyertai kami lagi, maka sungguh belumlah mampu kami semuanya membalas budi dan kasih sayang mereka, oleh sebab itu ajarkanlah semua itu kepada kami untuk kami balaskan kepada anak – anak kami. Ajarkanlah kepada kami bagaimana beliau membimbing kami sehingga kami sampai kepada jalan – jalan dan ajaran petunjukMU yang indah ini, sehingga sampai kapanpun, keturunan kami akan berada di dalam jalan keselamatan yang damai ini. Segala doa dan rasa hormat kami panjatkan untuk orang tua kami dan para leluhur kami, semoga mereka mendapatkan curahan rakhmat dan ampunan dariMU, wahai yang maha pengampum lagi maha penyayang. Ijinkan pula sebelum kami meninggalkan majelisMU yang agung ini, kami menitipkan anak – anak kami agar mereka semua Engkau pelihara dengan limpahan rakhmat dan kasihMU, karena kami tidak akan terus menerus bersama mereka selamanya. Suatu hari itu, kami akan kembali kepadaMU, namun kami lega dan ridho atas panggilanMU itu, karena kami telah kembali sebagai jiwa yang menang dan kami tenang karena melihat anak – anak kami dalam lindungan kasih dan cintaMu, wahai yang maha perkasa. Sungguh, wahai yang maha menjadi pengharapan dan satu – satunya tempat bergantung, kami memuliakanMu, kami memujiMU, kami memujaMU dengan seluruh jiwa yang hina ini, ijinkan dalam aliran darah kami mengalir nama – namaMu yang agung, ijinkan dalam setiap tetesan air mata kami menetes karena kasih dan sayangMU yang melingkupi jiwa kami, ijinkan dalam detak jantung kami berdegup melantunkan kesaksian kami bahwasannya tiada yang patut kami sembah dan agungkan kecuali Engkau, tiada yang lain, hanya Engkau, degupan dan detak jantung kami, aliran darah kami, hembusan nafas kami, hanya Engkau, hanya Engkau, hanya Engkau … “. Suaraku makin lirih, hanya air mata menetes tiada terbendung. Tak tahu apa yang dirasakan oleh para makmum, hanya isakan lirih yang aku dengar. Sebuah siang yang terindah dalam hidupku.
Sep 8, 2009
Panasnya Kota, Sejuknya Rumahku
Posted by
Bekal
@
4:01 PM
0
komentar
Kategori : RIDE THE WAVE OF JOY
Sep 4, 2009
Ramadhan Make Over
Ramadhan, Ramadhan, Ramadhan adalah sebuah nama yang selalu menjadi pembeda di antara dua belas bulan yang berganti. Dari masa kanak – kanak sampai sekarang ini Ramadhan terus memiliki arti yang berbeda pada diriku. Ketika pengetertianku tentang Ramadhan adalah puasa yang artinya menahan diri dari makan dan minum dari fajar hingga maghrib tiba, Ramadhan sudah terasa istimewa. Bagaimana tidak ?. Seminggu sebelum Ramadhan tiba, aku diminta mengantar kue “apem” ke tetangga – tetangga. Selanjutnya pergi “nyekar” (sekar = bunga) ke makam leluhur. Puncaknya, sore hari sehari sebelum Ramadhan menjelang, aku diminta mandi sebersih mungkin, keramas, dan bila perlu anak – anak sebayaku dimandikan oleh ibu atau neneknya, lalu semuanya bergegas ke tanah lapang di kampung, berkumpul bersama untuk melaksanakan ritual “barikan” (tukar menukar makanan dan makan bersama). Orang tua, remaja, dewasa dan anak – anak, bahkan kadang ada yang non muslim ikut juga, mereka semua membawa makanan biasanya nasi kuning / putih lengkap dengan lauk pauk, ada yang bawa pisang raja satu atau dua sisir, bermacam – macam kue, dan lain – lain. Semua wajah tampak ceria dan gembira serta khidmat ketika pak modin membacakan doa untuk kesejahteraan seluruh warga kampung dan menyambut Ramadhan dengan hati riang gembira.
Ketika remaja, lain lagi kegiatan yang aku lakukan, Ramadhan merupakan saat berhenti dari segala kegiatan rutin. Kegiatan – kegiatan lebih ritual bersama – sama dengan teman sebaya adalah mencari dan mengunjungi masjid atau tempat dilakukannya sholat tarawih, ceramah – cermah dan diskusi keagamaan yang dibimbing atau dipandu oleh ulama – ulama “terkenal”. Ramadhan tetap menjadi bulan yang istimewa karena tidak bertemu sebulan penuh dengan teman – teman sepermainan atau teman sekolah dimana sekolah libur dan aku berganti pergaulan dengan komunitas yang berbeda. Kenangan Ramadhan di masa remaja tidaklah sehebat ketika masa kecil di kampung.
Kini aku mulai mendapat seberkas atau secuil pengertian mengapa Ramadhan merupakan bulan yang istimewa seperti yang disampaikan oleh Al Qur’an dan Hadist Rasul. Mengapa hati harus gembira menyambut Ramadhan, bila menginginkan Ramadhan menjadi sebuah kado istimewa bagi diri kita. Hanya hati yang gembira dan penuh suka cita yang mampu merasakan keindahan dan ke maha indahan bulan ini. Sungguh sesuatu yang sangat terbalik dengan keinginan manusia biasa, karena manusia sangat senang dan gembira ria tatkala segala urusan yang berkaitan dengan nafsu,kebutuhan serta keinginannya terutama fisik dan pikirannya terpuaskan. Sementara Ramadhan justru memutus habis hasrat untuk memuaskan keinginan dan nafsu bahkan walaupun hanya sebatas kebutuhan saja misalnya segelas air, sepiring nasi, belum lagi kebutuhan yang diciptakan oleh pikiran – pikiran yang begitu pintar untuk memuaskan ego. Namun ternyata itulah keindahan Ramadhan, ketika pikiran berhenti maka fisik juga berhenti dari kebiasaan fisikalnya antara makan dan minum. Ketika pikiran berhenti dari ego sentrisnya, maka mulutpun berhenti untuk berdusta, bergunjing, menfitnah, mengumpat ataupun mengumbar kata – kata yang untuk memuaskan pikiran.
Ketika pikiran berhenti, maka dari penglihatan mata terkuak berbagai keindahan ruhaniah yang terhampar di seluruh semesta. Coba lihat semburat awan jingga, kuning dan abu – abu di langit setelah fajar menyingsing. Daun – daun menguning yang jatuh tertiup angin kemarau dan berserakan di jalanan, begitu mempesona. Lalu, kesahduan senja ditimpa suara bedug dan adzan, membuat mata rasanya tak kuasa melelehkan airmata.
Ketika pikiran berhenti, rangkaian kata menjadi penuh makna, indah dan menyejukkan. Ketika pikiran berhenti, suara burungpun di telinga, menyadarkan tentang keindahan dan keagungan sang maha pencipta. Sesungguhnya ketika pikiran berhenti, maka hati terbuka. Suara hati menjadi pemandu, penjelas dan pembeda. Suara – suara kesejatian diri manusia yang terlupakan, terlelap oleh pengagungan pikiran. Demikianlah Ramadhan seharusnya memang menjadi pemandu, penjelas dan pembeda antara masa lalu dengan masa depan, antara iman dengan kesaksian, antara yang punya tujuan dengan yang asal jalan saja.
Siang ini, sampailah pada keindahan yang ke sekian kalinya. Coba kau rasakan dari hatimu yang paling dalam, jangan engkau berhenti sampai engkau bisa mencapai dasar hatimu, lalu putar balik perasaanmu dari sejak awal engkau masuki bulan Ramadhan tahun ini. Satu persatu kenang kembali rasa indah itu, tatkala engkau bersujud di malam yang buta atau engkau beristigfar di setiap ingatanmu akan kelalaian di masa lalumu. Ya, satu persatu perasaan, ketika engkau berbaris lurus di dalam shaft tarawih atau melantunkan ayat – ayat suci setiap malam, menjadi sangat berbeda rasanya kali ini.
Sekarang engkau tahu, betapa Ramadhan penuh banyak keindahan dan gemerlap kesahduan yang memandumu menuju keabadian rasa bahagia yang mengkristal. Rasa itu membuatmu senantiasa tersenyum bahagia, apapun yang engkau hadapi dan temui dalam kehidupan yang fana ini. Hanya engkau perlu memutuskan jalan – jalan mana yang hendak kau lalui sampai di hari ketiga puluh nanti. Sepanjang jalan yang telah kau tempuh itulah engkau temukan kesejatian makna Ramadhan, bukan hanya sekedar bulan suci atau bulan puasa, yang tidak boleh melakukan ini atau itu.
Selamat Bertajalli.
Posted by
Bekal
@
1:30 PM
0
komentar
Kategori : RIDE THE WAVE OF JOY